Hari: 23 September 2017

[FAKTA MENGERIKAN] 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Setelah Diotopsi

[FAKTA MENGERIKAN] 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Setelah Diotopsi – Banyak desas desus dan kabar miring tentang bagaimana meninggalnya 7 Jenderal Perwira Tinggi Angkatan Darat korban kekejaman Gerakan 30 September (G30S) PKI pada tahun 1965. Selama puluhan tahun fakta sejarah hasil otopsi 7 jenazah para jenderal yang dimasukkan di Lubang Buaya ini disembunyikan. Tak banyak yang tahu tentang fakta medis penyebab tewasnya korban kekejaman G30S PKI. Akibatnya, muncul berbagai versi tentang misteri kematian Pahlawan Revolusi Indonesia.

Adanya film bersejarah G30S PKI tidak mencerminkan proses dan kejadian pembantaian massal yang terjadi pada 1965 lalu. Film yang dibuat di era Orde Baru wajib diputar di televisi, secara jelas menginformasikan para korban disilet. Cerita “pencungkilan” mata dan “pemotongan” penis sejatinya sudah terlebih dahulu terdengar di masyarakat sekitar. Padahal fakta tentang 7 Jenazah Pahlawan Revolusi masih belum dapat diungkapkan.

Oleh sebab itulah Intisari September 2009 dalam judul “Saksi Bisu dari Ruang Forensik” mencoba mengurai dan mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi di balik bangsal-bangsal forensik. Hasil otopsi 7 jenazah Pahlawan Revolusi menunjukkan tak ada tanda tanda penyiksaan berupa pencongkelan mata dan pemotongan penis para Jenderal.

Hasil Otopsi 7 Jenazah Jenderal Revolusi

Hasil Otopsi : Jenazah Jenderal Ahmad Yani

Dari hasil forensik menujukkan adanya Luka Tembak masuk yaitu 2 di dada kiri, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di garis pertengahan perut, 1 di perut bagian kiri bawah, 1 perut kanan bawah, 1 di paha kiri depan, 1 di punggung kiri, 1 di pinggul garis pertengahan.

Sedangkan Luka tembak keluar 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di punggung kiri sebelah dalam. Sementara Kondisi lainnya yaitu sebelah kanan bawah garis pertengahan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13 mm, pada punggung kanan iga ke delapan teraba anak peluru di bawah kulit. Sungguh mengerikan penyiksaan yang dilakukan PKI pada sang Jenderal Revolusi setelah jasa yang beliau persembahkan berupa kemerdekaan untuk Indonesia.

Hasil Otopsi : Jenazah Letjen R. Soeprapto

Jenazah Pahlawan Revolusi, Letjen R. Soeprapto ditemukan Luka tembak masuk yaitu 1 di punggung pada ruas tulang punggung keempat, 3 di pinggul kanan (bokong), 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, 1 di pertengahan paha kanan. Luka tembak luar yaitu 1 di pantat kanan, 1 di paha kanan belakang sedangkan Luka tidak teratur ada 1 di kepala kanan di atas telinga, 1 di pelipis kanan, 1 di dahi kiri, 1 di bawah cuping kiri. Kondisi lainnya, tulang hidung patah, tulang pipi kiri lecet.

Hasil Otopsi : Jenazah Mayjen M.T Haryono

Jenazah Pahlawan Revolusi yang disiksa oleh PKI pada 1965 ini ditemukan di Lubang Buaya. Kondisi tubuh sang Mayor Jenderal waktu itu sangat mengerikan. Hasil otopsi menunjukkan adanya Luka tidak teratur yaitu 1 tusukan di perut, 1 di punggung tangan kiri, 1 di pergelangan tangan kiri, 1 di punggung kiri (tembus dari depan). Fakta ini ditemukan dan sungguh terjadi pada tubuh para pahlawan pejuang bangsa kita tercinta.

Hasil Otopsi : Jenazah Mayjen Soetojo Siswomiharjo

Jenazah Pahlawan Revolusi berikutnya yang ditemukan pada Lubang Buaya yaitu jenazah dari Mayjen Soetojo Siswomiharjo. Hasil otopsi menunjukkan adanya Luka tembak masuk sebanyak 2 di tungkai kanan bawah, 1 di atas telinga kanan. Sedangkan Luka tembak keluar berjumlah 2 di betis kanan, 1 di atas telinga kanan. Luka tidak teratur sejumlah 1 di dahi kiri, 1 di pelipis kiri, 1 di tulang ubun-ubun kiri,  di dahi kiri dan tulang tengkorak remuk. Juga terdapat penganiayaan benda tumpul berjumlah empat jari kanan. Meyjen Soetojo bisa jadi banyak dianiaya oleh antek PKI sehingga tengkorak dahinya remuk.

Hasil Otopsi : Jenazah Letjen S. Parman

Letjen S. Parman ditemukan sebagai salah satu jenazah pahlawan Revolusi, dimana hasil otopsi menunjukkan adanya Luka tembak masuk berjumlah1 di dahi kanan, 1 di tepi lekuk mata kanan, 1 di kelopak atas mata kiri, 1 di pantat kiri, 1 paha kanan depan. Adapun Luka tembak keluar ada1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di perut kiri, 1 di paha kanan belakang.

Untuk Luka tidak teratur ada 2 di belakang daun telinga kiri, 1 di kepala belakang, 1 di tungkai kiri bawah bagian luar, 1 di tulang kering kiri. Beliau juga mengalami kekerasan tumpul pada tulang rahang atas dan bawah.

Hasil Otopsi : Jenazah Letjen D.I Pandjaitan

Jenazah Pahlawan Revolusi dari Letjen D.I Panjaitan ditemukan dalam keadaan sangat miris. Luka tembak masuk ada 1 yaitu di alis kanan, 1 di kepala atas kanan, 1 di kepala kanan belakang, 1 di kepala belakang kiri. Luka tembak keluar: 1 di pangkal telinga kiri. Adapun Kondisi lain yaitu punggung tangan kiri terdapat luka iris. Luka iris ini tentu menyeramkan. Tetapi, tidak dijelaskan apakah luka itu diiris menggunakan silet atau senjata tajam lainnya.

Hasil Otopsi : Jenazah Kapten Pierre Tendean

Luka tembak masuk pada jenazah Kapten Pierre Tendean ada 1 di leher belakang sebelah kiri, 2 di punggung kanan, 1 di pinggul kanan. Luka tembak keluar berjumlah 2 di dada kanan. Adapun Luka tidak teratur ditemukan juga berjumlah 1 di kepala kanan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di puncak kepala dan Kondisi lai yaitu lecet di dahi dan pangkal dua jari tangan kiri.

Apapun itu, sungguh keji orang orang yang telah tega melakukan gerakan massal dan pembantaian massal para Perwira Tinggi Angkatan Darat yang sudah berjuang demi kemerdekaan bangsa ini. G30SPKI menjadi salah satu goresan tinta hitam dalam sejarah Indonesia. Semoga Allah selalu menjaga TENTARA TENTARA INDONESIA, Demi keutuhan BANGSA INI. Salam Kemerdekaan!

 

2,708 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

7 Pahlawan Revolusi Korban G30S PKI yang Dibuang di Lubang Buaya

7 Pahlawan Revolusi Korban G30S PKI yang Dibuang di Lubang Buaya – Peristiwa kelam yang terjadi di Indonesia pada Jumat dini hari tanggal 1 Oktober 1965 menyisakan pilu yang begitu mendalam. Peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S ini menjadi bukti bentuk pengkhianatan PKI / Partai Komunis Indonesia. PKI bahkan melakukan pembantaian keji di berbagai wilayah di Indonesia. Peristiwa sejarah paling memilukan ini merenggut 7 Jenderal Perwira Tinggi Angkatan Darat / TNI AD yang kemudian dikenal sebagai 7 Pahlawan Revolusi Indonesia.

7 Pahlawan Revolusi korban G30S PKI ini dibuang di sebuah sumur markas PKI yang bernama Lubang Buaya. Adapun ke tujuh Pahlawan korban kebiadaban PKI ini diantaranya :

Jenderal Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani adalah satu dari 7 Pahlawan Revolusi Indonesia. Begitu besar jasa Sang Jenderal Ahmad Yani untuk kemerdekaan Indonesia, diantaranya menahan Agresi Militer pertama dan kedua Belanda. Beliau juga dapat mengalahkan pemberontak DI/TII, Operasi Trikora di Papua Barat dan Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia. Namun apa yang sang Jenderal dapatkan? Beliau mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari PKI yaitu penyiksaan dan penembakan dengan 7 buah peluru.

Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo pada tanggal 19 Juni 1922. Beliau mendapatkan pendidikan formal di HIS (sekolah setingkat SD), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs / setingkat Sekolah Menengah Pertama) dan AMS (Algemne Middelberge School / setingkat Sekolah Menengah Atas). Beliau mengawali karir sebagai Angkatan Darat dengan mengikuti sekolah wajib militer di Malang oleh Hindia Belanda pada waktu itu hingga akhirnya beliau bergabung Bersama PETA saat Jepang menduduki Indonesia.

Alasan Ahmad Yani diculik oleh PKI adalah Karena beliau menolak usulan dari PKI yang menginginkan pembentukan Angkatan Kelima yaitu dipersenjatainya buruh dan tani.

Letnan Jenderal Suprapto

7 Pahlawan Revolusi korban kebiadaban PKI, Letjen Suprapto menjadi target penculikan Karena sikap keras beliau yang menolak D.N. Aidit untuk membentuk angkatan kelima. Salah satu Perwira Tinggi Angkatan Darat ini pernah dikirim ke Semarang, Jakarta dan bermarkas di Medan dalam bertugas. Di Semarang beliau diangkat sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro, kemudian ditarik ke Jakarta sebagai Staff Angkatan Darat dan kembali lagi ke Kementerian Pertahanan. Letjend Suprapto bermarkas di Medan sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera saat pemberontakan Permesta (Perdjuangan Rakjat Semesta) telah padam / usai.

Sang Pahlawan Revolusi ini dilahirkan di Purwokerto pada tanggal 2 Juni 1920. Letnan Jenderal Suprapto menyelesaikan pendidikan formalnya di MULO dan AMS Yogyakarta.

Letnan Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono

Jenderal Perwira Tinggi Angkatan Darat, Mas Tirtodarmo Haryono atau yang biasa dikenal sebagai Letjend M.T Haryono merupakan satu dari 7 Pahlawan Revolusi yang dibuang di Lubang Buaya. M.T. Haryono sangatlah cerdas dimana beliau menguasai 3 bahasa Asing yaitu Belanda, Inggris dan Jerman. Kecerdasan beliau ini membuatnya dikenal sebagai perwira penyambung lidah dalam setiap perundingan. Termasuk ketika KMB (Konferensi Meja Bundar), Haryono hadir sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Beliau lahir di Surabaya pada tanggal 20 Januari 1924. Haryono kecil mendapatkan pendidikan formal di ELS (setingkat Sekolah Dasar), HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum) dan Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun berhenti di tengah jalan. Perjuangan Letjend M.T. Haryono untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini harus berakhir dengan penyiksaan dalam Lubang Buaya oleh PKI pada Gerakan 30 September 1965.

Letnan Jenderal Siswondo Parman

7 Pahlawan Revolusi berikutnya yaitu Letjen Siswondo Parman, dimana Perwira Tinggi Angkatan Darat ini diculik dan dibunuh PKI karena menolak usul D. N. Aidit tentang dipersenjatainya buruh dan tani atau disebut Angkatan Kelima. Terlebih lagi bahwa Jenderal S. Parman merupakan tentara intelijen yang tahu tentang gerak-gerik PKI.

Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah pada 4 Agustus 1918. Setelah kemerdekaan Indonesia, Parman bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Pada akhir Desember 1945, ia diangkat kepala staf dari Polisi Militer di Yogyakarta. Empat tahun kemudian ia menjadi kepala staf untuk gubernur militer Jabodetabek dan dipromosikan menjadi mayor. Pada 30 September 1965 beliau disiksa dan dibunuh serta dimasukkan ke Lubang Buaya dan akhirnya meninggal pada usia 47 tahun.

Mayor Jenderal Donald Isaac Panjaitan

D.I Panjaitan adalah satu dari 7 Pahlawan revolusi yang menjadi korban kekejaman pengkhianatan PKI. Dalam tugasnya, D.I. Panjaitan menjadi seorang Perwira Tinggi yang menduduki jabatan penting dalam Angkatan Darat. Karenanya beliau menjadi salah satu target penculikan PKI.

Setelah kemerdekaan, Pandjaitan bersama pemuda lainnya membentuk TKR. Karirnya terus melonjak naik, mulai dari komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera dan menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Terakhir beliau menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (sebelumnya masih banyak jabatan yang diembannya).

Mayjend D.I Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara pada tanggal 19 Juni 1925. Sang Mayjend menyelesaikan pendidikan formalnya hingga Sekolah Menengah Atas. Ketika Jepang tiba di Indonesia, Pandjaitan mengikuti latihan Gyugun dan ditugaskan menjadi anggota Gyugun di Pekanbaru.

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Sutoyo diculik oleh PKI dan dibawa ke markas mereka di Lubang Buaya. Di sana Sutoyo dibunuh dan tubuhnya dibuang ke sumur Bersama 6 Pahlawan Revolusi lainnya. Awal karir Sutoyo di Polisi Militer yaitu sebagai ajudan Kolonel Gatot Soebroto, Komandan Polisi Militer. Karirnya terus naik hingga dipercaya menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen pada tanggal 28 Agustus 1922. Beliau menyelesaikan belajar formalnya sebelum Jepang menduduki Indonesia. Pada tahun 1945, Sutoyo gabung militer sebagai Polisi Tentara Keamanan Rakyat yang merupakan cikal bakal Polisi Militer.

 

Kapten Pierre Tendean

Beliau menjadi salah satu dari 7 pahlawan Revolusi Indonesia korban G30S PKI tahun 1965. Padahal beliau bukanlah target utama Karena yang sebenarnya diincar adalah Jenderal Abdul Harris Nasution / A.H. Nasution. Beliau merupakan Ajudan dari Jenderal A.H Nasution yang ditangkap Karena beliau dikira PKI sebagai Jenderal Nasution.

Pada peristiwa G30S lalu, Pierre Tendean yang disangka Jenderal A. H. Nasution ditangkap dan dibawa oleh PKI ke Lubang Buaya. Disana Pierre dibunuh dan dimasukan ke sumur tak terpakai bersama 6 Perwira Tinggi Angkatan Darat lainnya. Pierre pun dianugerahi Pahlawan Revolusi Karena peristiwa tersebut.

Kapten Pierre Tendean lahir pada 21 Februari 1939. Tendean mengawali karir militernya menjadi intelijen. Ditugaskan sebagai mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Itulah Tujuh pahlawan Revolusi Indonesia yang dimasukkan ke Lubang Buaya sebagai korban penyiksaan, kebiadaban dan pengkhianatan PKI. Semoga ke depannya bangsa Indonesia lebih kuat lagi dalam menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa. BARAKALLAH.

 

2,767 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini