Kalian Perlu Tahu ! Sejarah Kanibalisme Yang Ada di Nusantara

Kalian Perlu Tahu ! Sejarah Kanibalisme Yang Ada di Nusantara

Kalian Perlu Tahu ! Sejarah Kanibalisme Yang Ada di Nusantara – Kanibalisme di Nusantara pertama dituturkan oleh Marco Polo, seorang penjelajah asal Venesia, Italia. Pada tahun 1292, sejarah kanibalisme yang ada di Nusantara dimulai, ketika Marco Polo menjelajah pesisir Sumatera. Dalam perjalanannya ia terkejut melihat adanya masyarakat yang mengkonsumsi daging manusia. Tak hanya satu tempat, Marco Polo pun menyaksikan kembali praktik kanibalisme di kerajaan Dagroian, Aceh.

“Ketika seorang kerabat mereka jatuh sakit, mereka akan memanggil penyihir untuk datang dan mencari tahu apakah orang yang sedang sakit bisa sembuh atau tidak. Jika penyihir itu berkata yang sakit akan mati, kerabatnya akan memanggil orang tertentu, dimana secara khusus untuk membunuh orang sakit tersebut. Saat sudah terbunuh, mereka memasaknya. Lalu para kerabatnya akan berkumpul kemudian menghidangkan dan menyantap seluruh badan orang tersebut”  tulis Marco Polo.

“Para Kanibal dan Raja-raja Sumatera Utara pada 1290-an” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

“jika ada satu bagian saja yang tertinggal, bagian tersebut akan mengeluarkan cacing-cacing yang akan mati kelaparan. Bersamaan dengan kematian cacing-cacing itu, jiwa orang mati tadi akan mendatangkan dosa besar dan kesengsaraan. Itulah sebabnya mereka menyantap seluruh tubuh orang mati tadi.”


Baca Juga :

7 Pahlawan Revolusi Korban G30S PKI yang Dibuang di Lubang Buaya

[FAKTA MENGERIKAN] 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Setelah Diotopsi


Sebagai Hukuman

Tak hanya menyangkut soal kepercayaan, kanibalisme dilakukan sebagai hukuman bagi yang kalah dalam perang atau melanggar peraturan. Seorang peneliti bernama Oscar Von Kessel, melakukan penelitian tersebut tentang masyarakat Batak pada tahun 1844.

Menurutnya, masyarakat Batak menganggap kanibalisme sebagai perbuatan hukum dan pelanggaran, seperti pencurian, zina, pengkhianatan.

Pengalaman yang sama juga dialami Arkeolog Friedrich Schnitger. Ketika melakukan penelitian di Padang Lawas, Sumatra Selatan pada tahun 1935, dia menemukan peninggalan berupa sebuah candi yang dipercaya merupakan sisa-sisa kerajaan Poli abad ke-12. Menurutnya, kerajaan ini berasal dari sebuah sekte yang sangat mengerikan bernama Sekte Bhairawa. Sekte ini memuja dewa-dewa yang berwujud mengerikan, mirip iblis. Mereka memiliki ritual memakan daging manusia pada upacara pemujaan di kuburan.

Upacara Ritual

Menurut Schnitger dalam “Reruntuhan Kerajaan Tak Bernama,” biasanya upacara ini dimulai beberapa jam setelah matahari terbenam. Beberapa manusia hidup yang akan dikorbankan lalu dibaringkan. Kemudian sang pendeta akan mengambil jantungnya, dan menuangkan darah ke sebuah tengkorak dan meminumnya sampai habis.

“Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kanibalisme adalah hal lazim dilakukan,” tulis Friedrich Schnitger, termuat dalam Sumatera Tempo Doeloe.

“Seperti kami, siapa pun yang kenal betul dengan negeri dan penduduk Sumatera Utara pasti paham bagaimana ilmu sihir, jampi-jampi, dan sejenisnya, memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ini.”

Menurut Bernard HM Vlekke, kanibalisme sebagai ritual karena unsur utama dalam animisme adalah panteistik, bahwa segala sesuatu dan segala makhluk punya jiwa dan energi kehidupan.

Kebiasaan kanibalisme dan pengayauan yang kini sudah punah bertujuan untuk mengambil-alih “energi kehidupan’ dari musuh yang terbunuh tersebut”  tulis Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia.

Dalam kasus lain, kanibalisme berlaku untuk seorang yang dituduh pengkhianatan dan tawanan perang.

Mereka dapat menangkap orang asing yang bukan berasal dari daerahnya, mereka akan menahan orang itu. Jika orang itu tidak sanggup menebus dirinya sendiri, mereka akan membunuhnya dan memakannya langsung di tempat” tulis Marco Polo. “Itu adalah kebiasaan yang sangat buruk dan menjijikan.”

Kanibalisme di Nusantara perlahan mulai menghilang setelah pada tahun 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang segala bentuk kanibalisme Hindia Belanda.