Terkenal Mengerikan, 5 Ritual Zaman Dulu yang Memakan Jiwa Manusia

Terkenal Mengerikan, 5 Ritual Zaman Dulu yang Memakan Jiwa Manusia

Terkenal Mengerikan, 5 Ritual Zaman Dulu yang Memakan Jiwa Manusia – Majunya peradaban manusia menjadikan patut bersyukur akan hal ini, karena dengan majunya zaman, manusia sudah semakin semaju dan lebih toleran. Jika dibandingkan zaman dulu, ritual-ritual di luar nalar manusia akan lazim ditemui.

Salah satunya seperti keyakinan bahwa darah manusia merupakan salah satu persembahan paling sempurna untuk para dewa. Beberapa suku zaman dulu banyak yang mengorbankan banyak nyawa manusia, baik itu nyawa orang bersalah maupun tidak.

Berikut ini beberapa kebudayaan dan ritual zaman dulu yang memakan jiwa manusia, demi mempersembahkan jiwanya untuk para dewa.

Ritual Zaman Dulu yang Memakan Jiwa Manusia

Dinasti Shang

Kebudayaan pertama yang mengambil nyawa manusia adalah Dinasti Shang (1600 – 1400 SM) dari Tiongkok. Hal ini dibuktikan dari tulisan pada tulang sapi atau cangkang penyu yang sering dipakai oleh para peramal pada zaman itu sebelum mengambil keputusan. Dan pastinya, tulang-tulang ini hanya bisa dibaca oleh para peramal dan sang penguasa.

Pada 1899, para arkeolog Tiongkok melakukan penggalian di daerah Yinxu, dekat Anyang, Provinsi Henan, menemukan tulang ramalan dari sapi dan cangkang penyu. Lebih mengejutkan lagi, mereka juga menemukan kuburan massal berisi 10 hingga 50 tulang belulang manusia yang ternyata dijadikan korban.

Jepang

Jepang pada masa lampau juga memiliki masa lalu yang kelam tentang pengorbanan manusia. Pada sejarah Jepang yang diriwayatkan dalam Nihon Shoki, terdapat beberapa catatan mengenai praktik hitobashira yang artinya “pilar manusia”, pengorbanan manusia dengan “menanamkannya” pada pondasi bangunan seperti istana, waduk, atau jembatan. Adanya hitobashira adalah sebagai korban agar para dewa melindungi bangunan-bangunan tersebut dari bencana.

Kartago

Kartago pada zaman dulu adalah kota modern yang sekarang sudah menjadi Tunis, ibukota Tunisia, Afrika Utara. Masyarakat Kartago diketahui melakukan sejumlah ritual pengorbanan. Masyarakat disana mengorbankan darah dagingnya sendiri sebagai pengorbanan para dewa walau hal ini sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan.

Proses ritual yang dilakukan sangatlah kejam. Bayi yang masih hidup dibakar di hadapan patung dewa Ba’al Hammon. Bayi yang malang diletakkan di tangan patung Ba’al Hammon yang mengarah ke bawah, ke arah jurang dengan api yang menyala. Ritual ini akhirnya berhenti saat Kartago menerima peringatan dari Kekaisaran Akhemeniyah untuk segera menghentikan berbagai kegiatan yang “menajiskan” termasuk pengorbanan anak.

Romawi Kuno

Berbeda dengan Romawi Modern yang menentang adanya pengorbanan manusia, Romawi Kuno dapat melakukannya dengan sesuka hati, bahkan warga Romawi Kuno pun juga tidak segan-segan mengorbankan para perawan Vesta, jika mereka terbukti “ternoda”. Mereka akan dikurung di sebuah kamar batu hingga mati kelaparan atau dihanyutkan ke sungai demi mendapatkan pengampunan dari Dewi Vesta.

Selain perawan Vesta, warga Romawi juga mengorbankan anak-anak hermafrodit, karena dianggap sebagai kutukan. Kemudian saat menangkap kaum Kelt di Galia, masyarakat Romawi Kuno membuntungkan tangan dan kaki mereka lalu membiarkan mereka kehabisan darah. Alasannya, mereka menuduh kaum Kelt yang melakukan pengorbanan manusia, sehingga pantas untuk dibunuh

Tanzania

Beberapa dukun di negara ini melakukan ritual yang bisa dibilang bukan sembarang ritual, dimana para dukun ini tidak akan menyerang sembarangan orang. Mereka hanya menyerang kaum pengidap albinisme, seseorang yang menderita kekurangan pigmen sehingga kulit nya putih, para dukun menganggap kaum albino bagi adalah hasil perselingkuhan orang Afrika dengan orang kulit putih sehingga pantas untuk dikorbankan.

Tidak main-main, praktik yang sudah berjalan sejak tahun 2000 ini sudah melahap nyawa 75 orang albino dan organ kaum albino yang dikorbankan kemudian diambil dan digunakan sebagai jimat, berkisar di kisaran jutaan hingga miliaran rupiah.

Itulah tadi beberapa kebudayaan dan ritual zaman dulu yang memakan jiwa manusia, dengan majunya zaman, semoga pemikiran tersebut lenyap dari dunia ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.