Mengulik Mitos Anak Pertama Menikah Dengan Anak Terakhir, Serasikah ?

Mengulik Mitos Anak Pertama Menikah Dengan Anak Terakhir, Serasikah ?

Mengulik Mitos Anak Pertama Menikah Dengan Anak Terakhir, Serasikah ? – Pernah mendengar anak pertama tidak boleh menikah dengan anak terakhir atau sulung, banyak yang bilang karena keduanya bertolak berkang. Seperti anak pertama sering dianggap sebagai sosok yang mandiri, sedangkan anak bungsu dianggap merupakan anak yang manja namun penyayang.

Walaupun tidak berlaku untuk semua orang, namun stereotip ini akhirnya memunculkan berbagai mitos termasuk saat dua anak ini menjalin sebuah hubungan jenjang pernikahan. Apa saja stereotip dan mitos mengenai anak pertama menikah dengan anak terakhir, serasikah? Simak penjelasannya berikut ini.

Mengulik Mitos Anak Pertama Menikah Dengan Anak Terakhir, Serasikah ?

Anak Pertama Lebih Sering Mengalah, Hal ini Bisa Berlaku Dalam Sebuah Hubungan

Anak pertama terkenal dengan kemampuannya mengayomi adik-adiknya, termasuk si bungsu atau anak terkahir. Jadi sudah terbiasa bertanggung jawab, sehingga saat ia menikah dengan anak bungsu maka ia sudah terbiasa menghadapi sifat ‘keadikan’ yang mungkin dimiliki pasangan. Jika terjadi masalah, maka kemungkinan si sulung akan banyak mengalah. Namun, anda perlu hati-hati juga karena  ada juga sulung yang justru menganggap dirinya lebih paham segala sesuatu sehingga ia akan merasa benar sendiri.

Anak Pertama Adalah Pengatur, Anak Terakhir Sebaliknya

 

Karena tanggung jawab besar yang dimiliki oleh anak pertama, maka ia akan terbiasa dengan hal-hal yang bersifat kepemimpinan dan mengatur segala sesuatu. Namun, si bungsu  bisa jadi akan mendapatkan keuntungan dari kebiasaannya si anak pertama. Tapi, ini bisa jadi bumerang, karena banyak orang yang beranggapan, anak pertama menikah dengan anak ketiga akan menimbulkan konflik karena perbedaan sifat tersebut.

Stereotip Yang Melekat Anak Pertama Memiliki Sifat Pekerja Keras, Anak Terakhir Memiliki Sifat Menabung

Karena merasa memiliki tanggung jawabnya, maka anak pertama biasanya akan lebih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Di sisi lain, anak terakhir memiliki kebiasaan baik yaitu gemar menabung. Sehingga pendapatan yang sudah didapatkan dari si sulung akan berhasil terkumpul dan diatur dengan baik oleh si bungsu saat mereka berada di dalam sebuah hubungan pernikahan. Namun semua itu tergantung dari masing-masing pasangan.

Walau Banyak Perbedaan, Justru Mereka Bisa Saling Melengkapi

Anak pertama identik dengan karakter penuh tanggung jawab dan pekerja keras, ini akan berbenturan jika mendapatkan seseorang yang sama ambisiusnya dengan dia. Makanya, kehadiran anak terakhir atau si bungsu bisa jadi akan menyeimbangi keadaan ini. Sifatnya yang penyayang dan penuh perasaan akan membuat rumah tangga semakin hangat. Kedua anak ini jika bersama dinilai akan saling melengkapi satu sama lain. Banyak mitos yang beranggapan, rumah tangga keduanya akan retak, karena perbedaan karakter yang dimiliki keduanya.

Kedua Pasangan Bisa Mengatasi Berbagai Masalah Dengan Baik

Anak pertama akan banyak menuntun si anak terakhir untuk menjadi orang yang lebih mandiri dan kuat, sedangkan si anak terakhir akan membuat si anak pertama menjadi seseorang yang lebih hangat. Saat terjadi sebuah permasalahan, maka pasangan ini akan dianggap bisa menyelesaikan semuanya dengan baik karena sifat yang saling melengkapi. Namun banyak yang beranggapan, dengan perbedaan sifat keduanya, menjadi kedua pasangan tersebut tidak cocok untuk mengayomi bahtera rumah tangga.

Intinya, jika saling sama menyayangi, baik anak pertama dengan anak ketiga ataupun lainnya akan cocok saja. Hal-hal tersebut adalah stereotip yang mungkin dimiliki oleh anak sulung dan bungsu, namun semua kembali ke pribadi masing-masing, tentu hal ini tidak berlaku secara general. Semoga bermanfaat untuk kita semua.