5 Ksatria Wanita yang Namanya Menjadi Legenda di Negaranya

5 Ksatria Wanita yang Namanya Menjadi Legenda di Negaranya

5 Ksatria Wanita yang Namanya Menjadi Legenda di Negaranya – Sejarah pernah mencatat tentang kehebatan dan keteguhan para ksatria yang banyak berjuang demi sebuah tujuan. Beberapa ksatria tersebut menjadi sebuah legenda yang namanya banyak diceritakan dalam berbagai kisah di masa modern ini.

Dari banyaknya ksatria yang ada di masa lampau, beberapa yang diantaranya merupakan ksatria perempuan. Mereka juga berjuang dengan gigih demi mencapai sebuah tujuan dan cita-cita.

Berikut 5 ksatria wanita yang nama menjadi legenda di negaranya. Siapa saja mereka ? Apa yang mereka perjuangkan ?

Agustina de Aragon

Salah satu ksatria perempuan hebat yang pernah berperang di masa lalu adalah Agustina de Aragon.

Agustina lahir pada 1786 dan telah berperang pertama kalinya 4 tahun setelah ia menikah dengan seorang prajurit kemerdekaan Spanyol. Agustina sempat ditangkap oleh Prancis, namun berhasil melarikan diri dan membentuk pasukan pemberontak.

Pada tahun 1809, Agustina kembali berperang melawan Prancis di Zaragoza. Ia dan pasukan Spanyol berusaha untuk merebut kota tersebut dari tangan pasukan Prancis. Meskipun kota itu hanya bertahan selama tiga bulan, Agustina dan pasukan Spanyol dapat memberikan terapi kejut yang cukup signifikan bagi pasukan Prancis.

Agustina aktif peperangan hingga 1813 dan ia sempat menjadi komandan perang dalam pertempuran Vitoria. Beberapa tahun setelahnya,  Agustina pensiun dan menikmati masa tuanya hingga ia meninggal dunia pada 1857.

Boudicca

Boudicca adalah ratu dari Celtic yang memimpin pemberontakan melawan Romawi pada tahun 60 Masehi. Kemurkaan Boudicca bermula pada saat putrinya diperkosa oleh prajurit Romawi yang kala itu juga merebut paksa tanah orang-orang Celtic.

Serangan dari Ratu Boudicca tidak main-main. Ia memimpin pertempuran yang mengakibatkan tiga kota kekuasaan Romawi hancur lebur. Dari sisi Romawi, mereka kehilangan lebih dari 80.000 pasukan akibat pertempuran tersebut.

Kini, Boudicca tercatat dalam sejarah Britania Raya sebagai salah satu pejuang perempuan yang berani melawan tirani dan perbudakan.

Joan of Arc

Joan of Arc, hanyalah seorang anak dari petani di Prancis, yang percaya bahwa Tuhan memilihnya untuk berjuang memimpin Prancis dalam peperangan yang telah terjadi sangat lama dengan Inggris.

Namun, ibunya yang saleh mengajarkan Joan untuk selalu yakin akan ajaran-ajaran Tuhan. Pada 1429, ia bersama dengan pasukan Prancis berperang melakukan perlawanan terhadap pasukan Inggris yang saat itu telah mengepung benteng Orleans. Dengan baju ksatria dan kuda putih, ia memimpin pasukannya untuk tak gentar menghadapi Inggris yang saat itu berada di atas angin.

Namun, sayangnya, budaya dan adat istiadat Prancis dan Inggris saat itu sangat berbeda dengan saat ini. Joan yang seorang perempuan perawan dianggap tabu dan sesat karena ia berhasil memimpin peperangan. Ada banyak anggota dewan pengadilan keagamaan yang menyatakan bahwa Joan telah melanggar kodrat sebagai manusia.

Pada akhirnya, pengadilan menyatakan bahwa Joan melanggar adat dan norma agama. Ia dianggap bidah, tukang sihir, sesat, dan murtad oleh pengadilan. Joan of Arc dihukum pada 30 Mei 1431, dengan cara dibakar hidup-hidup di tiang pancang yang berada di pasar Rouen.

Namanya semakin harum dan dikenang oleh masyarakat Prancis sebagai pahlawan wanita yang berani melawan penindasan. Bahkan, 20 tahun setelah hukuman mati tersebut, pihak kerajaan membersihkan namanya. Kini, nama Joan of Arc dicatat dalam sejarah sebagai salah satu perawan suci bagi bangsa Eropa pada umumnya.

Margaret of Anjou

Margaret of Anjou adalah ratu sekaligus pahlawan Inggris. Seperti ditulis dalam laman Britannica, Margaret dilahirkan pada 23 Maret 1430 dan meninggal dunia pada 25 Agustus 1482. Ia sendiri adalah istri sekaligus permaisuri dari Raja Henry VI, di mana Margaret juga merupakan komandan di medan perang.

Ada kisah unik yang mengakibatkan Margaret bisa dipercaya menjadi komandan pemimpin perang bagi pasukan Inggris. Margaret yang juga seorang putri raja dari Napoli, ternyata memiliki mental baja yang berani menghadapi pasukan-pasukan musuh yang sangat kuat di medan pertempuran, padahal, usianya kala itu masih sangat belia.

Raja Henry VI yang saat itu lemah dan bermental penakut, tidak dipercaya oleh pasukan dan bahkan menimbulkan antipati bagi sebagian pemimpin provinsi di Inggris. Dalam beberapa kesempatan, kursi kepemimpinan Henry VI sempat digoyang dan Magaretlah yang mepertahankannya.

Begitu juga di medan pertempuran. Jika seharusnya raja berada di medan tempur untuk menjadi pemimpin perang, hal ini tidak terjadi pada masa Raja Henry VI. Justru, Margaret yang masih sangat muda yang maju menjadi komandan di medan perang. Kemampuan dan kehebatan Margaret begitu menginspirasi pasukan Inggris kala itu.

Sayangnya, Henry VI benar-benar digulingkan pada 1461 oleh pesaing terberatnya, yakni Edward of York, putra dari Richard of York yang juga keturunan raja-raja terdahulu. Margaret beserta suami dan anaknya melarikan diri ke Skotlandia. Pada 1471, Margaret yang masih berambisi merebut kursi raja, berusaha kembali ke Inggris dengan beberapa pasukannya.

Sayangnya, pertempuran yang tak seimbang itu menghancurkan sebagian besar pasukan Margaret. Bahkan, putra semata wayangnya juga harus terbunuh dalam perang tersebut. Henry VI juga tewas karena terbunuh di Menara London. Akhirnya, Margaret mengasingkan diri ke Prancis dan menjalani sisa hidupnya dengan kemiskinan.

Nakano Takeko

Seorang samurai muda yang tangguh pada zaman Edo pernah dicatat namanya sebagai pejuang yang berjalan di sisi bakufu (prajurit syogun). Ia adalah Nakano Takeko, seorang perempuan berusia 21 tahun yang mengabdikan hidupnya pada jalan samurai.

Pada zaman Edo di Jepang, mungkin kejadian ini adalah hal yang sangat langka. Biasanya, seorang samurai adalah laki-laki terlatih yang sudah menyerahkan hidupnya bagi jalan bushido dan samurai. Namun, Nakano Takeko sukses menjadi prajurit tangguh yang namanya terukir abadi dalam sejarah Jepang.

Seperti diberitakan dalam The Wrap, Nakano memang setia berada di pihak kesyogunan yang kala itu sedang bertentangan dengan Kaisar Jepang. Pada saat perang saudara meletus di Jepang–pertempuran yang sekaligus mengakhiri pemerintahan kesyogunan–Nakano telah menjadi salah satu pejuang hebat yang tewas dalam peperangan tersebut.

Kini, meskipun ia tercatat sebagai pendukung syogun, namanya tercatat dalam sejarah Jepang sebagai salah satu ksatria perempuan paling berpengaruh di Negeri Matahari Terbit tersebut.