Pusaka Terampuh Kerajaan Kartasura dan Kisah Pemuda Rendah Hati Joko Tengger

Pusaka Terampuh Kerajaan Kartasura dan Kisah Pemuda Rendah Hati Joko Tengger

Pusaka Terampuh Kerajaan Kartasura dan Kisah Pemuda Rendah Hati Joko Tengger Kisah ini bermula dari sepasang suami istri bernama Ki Umah dan istri serta anaknya bernama Joko Tengger. Kehidupan mereka cukup tentram. Joko Tengger seorang pemuda yang baik hati, ramah, dan suka menolong orang lain.

Suatu hari ia disuruh menjual hasil ladang Ayahnya ke kota. Kekuatan badannya luar biasa, dia dapat membawa seluruh hasil panennya dengan selaras cemara. Keistimewaan dan kekuatan badan Joko Tengger sampai terdengar pada Sri Sultan di Kartasura.

Raja memberi perintah memanggil Joko Tengger agar menghadap beliau. Sri Sultan ingin membuktikan kekuatan yang dimilikinya. Joko Tengger akhirnya mengabdi di kerajaan Kartasura.

Suatu hari, Sri Sultan bertanya kepadanya, “Senjata apakah yang kau miliki?”

Dengan penuh hormat ia menjawab “Ampun Sri Sultan, hamba tak memiliki senjata apapun karena orang tua hamba tak pernah mewariskan kepada hamba”

Sri Sultan berkata, “Sayang sekali, engkau tak memiliki senjata, padahal senjata itu perlu bagi dirimu sebagai seorang prajurit”

Berkata Joko Tengger “Sri Sultan, mungkin orang tua hamba belum sempat mewariskan kepada hamba. Maka apabila Sri Sultan memperkenankan, hamba akan pulang untuk menanyakannya”


Baca Juga Artikel Lainnya :


Joko Tengger Kembali Ke Desa Menemui Kedua Orang Tua                         

Sri Sultan pun, memberikan ijin kepada Joko Tengger untuk kembali ke rumahnya. Hari itu juga ia kembali ke rumah akan menanyakan senjata kepada ayahnya. Perjalanan antara Kartasura dan rumah orang tuanya seharusnya ditempuh dalam waktu beberapa hari. Atau bahkan beberapa minggu, namun karena kesaktiannya, ia dapat sampai di rumah dengan lebih cepat.

Bertanyalah ia kepada ayahnya “Ayah, Sri Sultan menanyakan senjata pemberian Ayah. Adakah senjata untukku?”

Hati ayahnya menjadi sedih karena memang tidak satupun senjata pusaka yang akan diwariskan kepada anaknya. “Tengger, anakku, ketahuilah olehmu bahwa sebenarnya senjatamu yang sangat ampuh adalah Ayah dan Ibumu sendiri”

Mendengar ucapan Ayahnya itu, ia menjadi gembira dan senang. Karena kedua orang tuanya akan dibawanya menghadap Raja.

“Kalau begitu, sekarang Ayah dan Ibu iku aku menghadap Baginda karena beliau sangat ingin melihat senjata milikku” kata Joko Tengger gembira

Tetapi, bagi kedua orang tuanya, hal tersebut merupakan petir di siang bolong. Sebab maksud Ayahnya tadi berkata dalam kiasan. Apa yang dikehendaki anaknya terpaksa diturutinya.

Keajaiban Terjadi Pada Kedua Orang Tua Joko Tengger

Hari berikutnya ketiganya meninggalkan desa. Sesampai di kerajaan, terjadilah suatu keajaiban karena orang tuanya yaitu Ki Umah dan Ni Umah berubah bentuk menjadi meriam – meriam ampuh. Ia terkejut dan sedih melihat kenyataan itu namun ia harus segera siap menghadap Sri Sultan.

Masih dalam keadaan berduka ia menghadap Sri Sultan Raja Kartasura, “Daulat Tuanku, Sri Sultan. Hamba haturkan sembah. Hamba membawa dan menyerahkan dua senjata ini.”

Ternyata senjata tersebut sangat berguna untuk pertahanan kerajaan Kartasura. Dalam beberapa kali peperangan terbukti meriam itu mampu memporak-porandakan pertahanan musuh.

Meriam-meriam itu dinamakan Kyai Setomo dan Nyai Setomi. Meriam Kyai Setomo sekarang berada di Taman Fatahillah Jakarta dan dikenal dengan nama Kyai Jagur. Sedangkan meriam Nyai Setomi hingga sekarang masih berada di Kartasura.

Sampai saat ini di Keraton Solo setiap acara Grebeg Besar, kegiatan Jamasan menjadi acara puncaknya. Jamasan adalah melakukan pembersihan pusaka, salah satunya adalah meriam Nyai Setomi.