Kisah Sunan Muria dan Pertemuannya dengan Dewi Roroyono

Kisah Sunan Muria dan Pertemuannya dengan Dewi Roroyono – Sunan Muria merupakan anak dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Said. Beliau dipanggil Sunan Muria karena tempat tinggal terakhir Beliau adalah di lereng gunung Muria. Gunung Muria terletak di kota Kudus sebelah utara. Tempat tinggal beliau ada di Colo, yaitu salah satu puncak Gunung Muria.

Sunan Muria masih mempertahankan alat dakwahnya dari seni gamelan dan wayang untuk meyampaikan ajaran Islam. Sinom dan Kinanti adalah salah satu media seni dari hasil dakwah beliau. Sunan Muria juga mengajarkan keterampilan bercocok tanam maupun berdagang saat bergaul bersama masyarakat.

Dalam berdakwah dan bergaul kepada masyarakat, Sunan Muria, anak dan istrinya harus naik turun gunung karena tempat tinggalnya yang berada dipuncak gunung Muria. Dari hal tersebutlah beliau mempunyai fisik yang kuat dengan tinggi gunung sekitar 750 meter. Sunan Muria juga merupakan Wali yang terkenal dengan kesaktiannya. Beliau memiliki ilmu yang dapat mengembalikan serangan lawannya.

Tangga ke makam Sunan MuriaSunan Muria dimakamkan diatas gunung Muria, di belakang masjid Muria. Untuk menuju kemakam beliau terdapat ratusan tangga untuk sampai keatas. Dipelataran makam terdapat 17 batu nisan, makam dari para prajurit dan punggawa atau ajudan, orang-orang terdekat. Terdapat bangunan cungkup, makam dengan atap sirap dua tingkat. Didalamnya terdapat makam Sunan Muria. Samping sebelah timur, ada nisan yang konon adalah makam dari puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki.

Sunan Muria mempunyai guru yaitu Ki Ageng Ngerang. Sunan Kudus juga murid dari Ki Ageng Ngerang. Saat Ki Ageng Ngerang mengadakan syukuran putrinya yang berusia genap dua puluh tahu. Putri Ki Ageng Ngerang bernama Dewi Roroyono. Pada malam itu datang murid-murid ki Ageng Ngerang, salah satunya Sunan Muria dan Sunan Kudus.

Dewi Roroyono dan Adiknya Dewi Roro Pujiwati berdandan cantik sekali pada malam itu, dan membuat Adipati Pethek Warak, salah satu murid Ki Ageng Ngerang dengan sifatnya yang berangasan terpesona dan tergila-gila. Sang Adipati menjadi lupa daratan, terbakar nafsu sampai-sampai berkata tidak senonoh dan mencolek-colek Dewi Roroyono. Dewipun merasa malu karena perbuatan sang Adipati, sampai menumpahkan minuman dan percikannya mengenai pakaian sang Adipati. Sang Adipati merasa malu bercampur marah, muka merah padam karena ditertawakan oleh banyak orang.

Larut malam setelah para tamu pulang, kecuali para tamu dari jauh yang menginap di rumah Ki Ageng. Saat semua orang tertidur lelap, istri Ki Ageng mengetahui bahwa Dewi Roroyono tidak ada dikamarnya. Setelah di selidiki, Ki Ageng tahu bahwa putrinya diculik oleh Adipati Pethak Warak. Dewi Roroyono dibawa oleh Adipati ke Mandalika. Pada saat itu juga Ki Ageng mengadakan sayembara dengan hadiah yang bisa mengembalikan Putrinya, akan dijodohkan oleh Dewi Roroyono. Tak ada yang mengangkat tangan, kecuali Sunan Muria yang menyatakan sanggup mengembalikan Dewi Roroyono. Dalam perjalanannya, Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri yang merupakan murid termuda Ki Ageng Ngerang.

Karena rasa hormatnya kepada Sunan Muria, mereka membantu menemukan Dewi Roroyono dengan bantuan seorang Wiku di pulau Seprapat. Dewi Roroyono berhasil dibawa kembali ke Ngerang. Saat Sunan Muria hendak pergi ke Ngerang untuk mengetahui keadaan Dewi Roroyono, beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak yang hendak merebut kembali Dewi Roroyono. Terjadilah perkelahian antara Sunan Muria dan Adhipati.

Dengan segenap kekuatannya Adhipati menyerang Sunan Muria, tapi apa daya Adhipati bukanlah tandingan Putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya beberapa kali gebrakan, Pathak jatuh terluka fatal. Pathak lumpuh, tak mampu berdiri lagi dan seluruh kesaktiannya lenyap. Dewi Roroyono pun akhirnya menjadi istri Sunan Muria. Sedangkan Kapa dan Gentiri diberikan tanah Buntar, yang berhak dikuasai didaerah tersebut.

Namun Kapa dan Gentiri diam-diam suka kepada Dewi Roroyono. Dengan maksud jahatnya itu Kapa dan Gentiri bermaksud merebut Dewi Roroyono. Gentiri mula-mula datang ke Padepokan Muria, dengan maksud menculik Dewi. Gentiri yang gelap mata terpengaruh oleh Cintanya sendiri. Sunan Muria mempergoki Gentri, hingga akhirnya Gentiri menemui ajalnya setelah berkelahi dengan Sunan Muria.

Setelah mendengar kabar tersebut, Kapa kakak dari Gentiri pergi ke Padepokan Muria yang pada saat itu Sunan Muria dan murid tertuanya sedang pergi berdakwah di lain desa. Kapa pun melukai murid-murid muda di Padepokan dan berhasil menculik Dewi Roroyono ke Pulau Sprapat. Sepulangnya dari demak, Sunan Muria hendak berkunjung ke rumah Dathuk dipulau Sprapat. Walau Wiku Lodhang Datuk merupakan pemeluk agama lain, Sunan Muria tetap menjaga kerukunan antar umat beragama dan bersahabat dengan pemeluk agama lain. Sesampainya disana Kapa kena teguran oleh gurunya, yaitu Wiku Lodhang Datuk yang tidak setuju atas apa yang telah Kapa perbuat.



INGIN TAHU CERITA UNIK TENTANG WALISONGO? KLIK www.Walisembilan.Com


Namun Kapa tidak menghormati gurunya dan tidak mematuhi apa yang telah Gurunya katakan. Hingga akhirnya saat perdebadan Dathuk dan Kapa, sampailah Sunan Muria dirumah Dathuk. Terkejutlah Sunan Muria melihat istrinya disekap disana. Melihat Sunan Muria sampai di rumah datuk, Kapa langsung menyerang Sunan Muria dengan kekuatan dan jurus andalannya. Dhatuk menyingkir dan menuju ke Dewi Roroyono untuk membebaskan ikatan talinya.

Bersamaan dengan itu, serangan pamungkas Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri dan menjerit keras hingga terdengar oleh Dhatuk. Ilmu yang dimiliki Sunan Muria, yang mampu mengembalikan serangan lawan. Serangan pamungkas Kapa akhirnya merenggut nyawanya sendiri. Wiku selaku gurunya memakamkan Kapa secara layak, dan menyesali perbuatan apa yang telah dilakukan muridnya itu. Sunan Muria kembali ke Muria bersama Istrinya dan hidup bahagia.

Amalan-amalan yang diajarkan oleh Sunan Muria masih ada hingga saat ini. Ramah terhadap siapa saja, menjaga kerukunan umat beragama, ajaran-ajaranya yang memiliki hikmah dan keutamaannya. Untuk mengetahui ilmu dan ajaran beliau, bisa anda kunjungi di “Sunan Muria”.

662 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Artikel Menarik Lainya :

Legenda Danau Toba dan Kisah Asal Usulnya
Mengenal Walisongo dan Kisah Asal Usulnya
Sejarah Ilmu pengasihan sebagai Ilmu Legenda di Indonesia
Legenda Sunan Kalijaga dan Kisah Pertaubatannya
Amalan pengasihan peninggalan nenek moyang
Cerita Legenda Batu Cinta Situ Patengan Bandung
Kisah Pulau Seprapat Juwana Pati dan Asal Usulnya
Misteri Alas Roban Di Batang Jawa Tengah, Hutan Angker Pembuangan Mayat

Comments

comments