Sejarah Prabu Siliwangi dan Mitos Maung Yang Melekat Pada Masyarakat Sunda

Sejarah Prabu Siliwangi dan Mitos Maung Yang Melekat Pada Masyarakat Sunda – Nama Siliwangi nampaknya tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, terlebih bagi warga Jawa Barat. Siliwangi adalah nama seorang penguasa tanah Pasundan pada jaman dahulu. Prabu Siliwangi seorang raja Pajajaran besar terpilih yang jago bertanding, sakti mandraguna, arif  serta bijaksana dalan memerintah rakyatnya. Prabu Siliwangi dikenal sebagai Sri Baduga Maharaja karena kehebatannya dalam membawa tanah Pajajaran menjadi sebuah kerajaan besar di Tanah Jawa waktu itu.

Beliau adalah putra dari Prabu Dewa Niskala putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana lahir 1401 M di Kawali Ciamis. Beliau mengawali pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran Pasundan, dimana Prabu Siliwangi telah memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan Pajajaran di Bogor mencapai puncak perkembangannya. Sejaran Prabu Siliwangi sendiri dikenal dengan pusaka Kujang nya serta khodam Macan putih.

Sejarah Prabu Siliwangi juga tak lepas dari arti namanya, yaitu berasal dari dua kata Silih dan wawangi. Silih artinya pengganti dan Wawangi adalah seorang nama Raja / Prabu, sehingga jika diartikan adalah Pengganti Prabu Wawangi. Prabu Siliwangi dikenal dengan kehebatan ilmu kanuragan maupun ilmu kepemimpinan. Bahkan dalam masa perjuangan bangsa Indonesia, nama Siliwangi selalu digunakan untuk menamai nama Pasukan Tentara atau prajurit agar lebih semangat dalam meraih kemenangan.

Sejarah Prabu Siliwangi dan Maung Putih

Dalam kebudayaan Tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang melekat padanya. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung atau macan, baik simbol verbal maupun non-verbal. Misalnya, nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yaitu dijuluki Maung Bandung. Lantas, bagaimana asal-muasal sejarah Prabu Siliwangi hingga melekatnya simbol maung pada masyarakat Sunda? Apa makna sesungguhnya dari simbol hewan berkuku dan bertaring tajam ini?

Simbol maung pada masyarakat Sunda erat kaitannya dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi ( sejarah Prabu Siliwangi ) dan Kerajaan Pajajaran yang dipimpinnya. Dahulu kala terjadi penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, sejarah Prabu Siliwangi mengatakan jika dirinya menghilang adalah untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam. Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnya nga-hyang.

Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang / menghilang / moksa bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “Wangsit Siliwangi”.

Sejarah Wangsit Siliwangi

Wangsit Siliwangi yang terkenal di kalangan masyarakat Sunda adalah : “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung”. Kisah mengenai wangsit ini telah menjadi semacam kisah yang sifatnya “tutur tinular” dari generasi ke generasi dalam masyarakat Sunda. Sehingga sulit dilacak dari mana sebenarnya cerita sejarah Prabu Siliwangi mengenai wangsit ini bermula.

Namun ada hal menarik berkaitan dengan kata-kata yang terkandung dalam wangsit Siliwangi tersebut. Kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan (Undak Usuk Basa). Anehnya, Mengapa seorang raja yang terkenal arif dan sangat bijaksana itu berucap dalam bahasa yang tergolong kasar?

Bukti sejarah Prabu Siliwangi menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya hegemoni atau pencampuran budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu baru terjadi pada abad ke 17, beberapa abad pasca Prabu Siliwangi moksa atau nga-hyang.

Bagi masayarakat Sunda, Wangsit Siliwangi ini filosofi kehidupan dan menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah berubah / menjelma menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi pertanyaan besa adalah apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna sebenarnya ataukah hanya kiasan?

Realitasnya, hingga kini masih banyak masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu Siliwangi menjadi harimau putih atau macan putih. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata. Itulah beberapa filosifi yang melambangkan sifat asli dari Prabu Siliwangi semasa hidupnya.

Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour). Itulah sejarah Prabu Siliwangi yang dapat kami sampaikan beserta kisah sejarah dan mitos maung putih pada masyarakat sunda. Semoga bermanfaat, BARAKALLAH.

447 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Artikel Menarik Lainya :

Cerita Malin Kundang si Anak Durhaka [LENGKAP]
Cerita Legenda Nyi Roro Kidul yang Mengerikan
Asal Mula Tradisi Ruwatan di Tanah Jawa
Jenis Jenis Pusaka Sakti di Tanah Jawa
Kisah Pulau Seprapat Juwana Pati dan Asal Usulnya
Kisah Saridin dari Lahir Hingga Bergelar Syekh Jangkung
Karimunjawa, Sejarah dan Asal Usul Hingga Jadi Destinasi Wisata dan Tempat Ziarah
7 Mitos Kejatuhan Cicak di Kepala, Benarkah Tanda Kesialan?

Comments

comments