Kisah Saridin dari Lahir Hingga Bergelar Syekh Jangkung

Kisah Saridin dari Lahir Hingga Bergelar Syekh Jangkung – Nama Saridin tentu tidak asing lagi di Indonesia, khususnya bagi warga sekitar Pati dan Kudus, Jawa Tengah. Saridin memiliki nama lain Syekh Jangkung yang merupakan salah satu tokoh Agama yang dikenal sebagai keturunan dari Sunan Muria atau Sunan Kudus. Kisah Saridin tentu menarik untuk diketahui karena beliau sebagai tokoh bersejarah berdirinya kota Pati. Lalu seperti apa kisah hidup Syekh Jangkung yang bernama kecil Saridin ini? Mari simak selengkapnya!

Jaman dahulu kala tinggallah seorang Kiyai dan Nyai Gede Keringan di daerah Kudus bersama dengan anak gadisnya, Ni Branjung. Anak gadis mereka telah tumbuh menjadi seorang anak gadis remaja yang anggun dan cantik sehingga timbul niat Kiyai Keringan untuk menimang seorang anak laki-laki. Sebab itulah Kiai Keringan dan istrinya selalu bertafakur, memohon ridha Allah agar dikaruniai anak laki-laki yang tampan.

Kisah Saridin ini dimulai ketika kedua orang tuanya berdoa secara khusyuk hingga dikabulkan oleh Allah melalui perantaraan ghaib Sunan Kudus. Dari perantaraan ghaib itu diberikanlah Kiyai Keringan seorang bayi laki-laki yang mana bayi itu tak lain merupakan putra Sunan Muria, salah seorang penyiar agama Islam terkenal. Bayi itu berselimutkan kain kemben yang berasal dari kain penutup dada sang ibu.

Kiyai Keringan diberikan pesan oleh Sunan Muria untuk mengurus Saridin dengan baik hingga berguna bagi keluarga, agama dan juga negaranya. Sedangkan kemben yang menempel di badan Saridin itu kelak akan menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi setup bahaya yang mengancamnya. Ujaran atau perkataan ini disampaikan oleh Sunan Muria melalui mimpi Kiyai Keringan. Kisah Saridin ini cukup unik berawal dari kelahirannya yang juga unik.

Seperti orang desa pada umumnya, kemudian Kiyai dan Nyai Keringan memberikan nama bayi laki-laki itu dengan sebutan “Saridin”. Pasangan ini merawat kedua anaknya dengan penuh kasih, hingga Saridin dan kakaknya Ni Branjung tumbuh dewasa. Waktu terus berlalu, kisah Saridin pun berbeda ketika kedua orang tuanya meninggal. Saridin dan Ni Branjung memperoleh warisan berupa pohon durian yang amat lebat buahnya. Selama bertahun-tahun mereka pun bersepakat membagi hasil penjualan buah durian itu secara adil untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga masing-masing. Akan tetapi, suami Ni Branjung merasa tak puas dan ingin memiliki hasil sebanyak­banyaknya dari pohon itu. Pada suatu hari, berkatalah dia kepada Saridin.

“Adikku, mulai sekarang kita menjual durian itu sendiri­sendiri supaya tidak repot menghitungnya. Kamu berhak menjual seluruh durian yang jatuh di siang hari, dan saga akan menjual seluruh durian yang jatuh setiap malam.” Kata suami Ni Branjung.

Hal ini membuat Saridin merasa bahwa kakak iparnya ini sangatlah serakah dan ingin menguasai semua harta peninggalan Kiyai dan Nyai Keringan. Biasanya durian yang masak itu selalu jatuh di malam hari sehingga jika siang hari pastilah ia tidak akan mendapatkan hasil apapun. Namun ia pun ikhlas menerima karena Saridin meyakini bahwa semua rezeki itu datangnya dari Allah. Lalu ia pun menjawab, “Baiklah Kakak, kalau hal itu memang sudah menjadi keinginanmu. Mulai besok aku sendiri akan memungut durian yang jatuh di siang hari.”

Kisah Saridin dan Buah Durian

Menerima penawaran dengan penuh keikhlasan membuat Allah selalu meridhoi dirinya, sehingga pada siang hari pun buah durian matang berjatuhan. Hati suami Ni Branjung pun menjadi panas tatkala buah durian masak justru jatuh di siang hari. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah suami Ni Branjung ke rumah Saridin untuk bertukar waktu. Harapannya ialah memperoleh banyak durian yang berjatuhan di siang hari. Akan tetapi, harapan itu justru menambah kekecewaannya karena ternyata tak banyak durian masak yang jatuh di siang hari.

Hal ini membuat suami Ni Branjung berpikir untuk berbuat curang, dimana pada malam hari ia mengendap-endap masuk kebun dengan menggunakan kain loreng. Setelah melihat datangnya Saridin maka berteriaklah suami Ni Branjung menirukan auman harimau loreng dengan maksud menakuti-nakuti Saridin. Namun, apakah yang terjadi berikutnya?

Kisah Saridin ini menjadi semakin menarik karena adanya auman harimau ini tidak membuatnya takut dan berlari, justru ia dengan sigap mengeluarkan golok dari ikat pinggangnya. Tanpa pikir panjang dan tak menduga bahwa harimau jadi-jadian itu adalah kakak iparnya, maka ia langsung menebas leher harimau itu. Tewaslah suami Ni Branjung di tangan adiknya sendiri. Pastilah kejadian itu menggegerkan banyak orang dan segera dilaporkan oleh punggawa desa kepada Adipati Pemantenan di Kadipaten Pati.

Kisah Saridin di Persidangan Kadipaten

Kisah Saridin ini berlanjut ke pengadilan untuk disidang. Akibat terbukti melakukan pembunuhan terhadap kakak iparnya itu, akhirnya Saridin dijatuhi hukuman gantung. Dengan gaya santunnya itu Saridin membela diri, “Ampun Kanjeng Adipati, niat hamba tidaklah membunuh saudara hamba sendiri, tetapi membunuh seekor harimau yang mengancam diri hamba. Oleh karena itu, hamba pun mohon dibebaskan dari hukuman itu.”

Dengan pernyataan ini sang Adipati menjadi ragu untuk menjatuhi hukuman gantung pada Saridin. Selaku penguasa tentu Adipati harus tegas dengan keputusannya sehingga ia berkata pada Saridin, “Baiklah Saridin, hukuman itu hanyalah sebuah tipuan yang berupa ayunan. Jadi, wajiblah kamu menerimanya.” Saridin percaya terhadap kata-kata sang Adipati, padahal niat Adipati Pemantenan ialah melaksanakan hukuman gantung itu dengan sesungguhnya demi kewibawaan seorang penguasa. Akan tetapi, hukuman itu menjadikan banyak orang terheran-heran. Di mata mereka, Saridin justru tampak tersenyum-senyum di tiang gantungan seperti seorang bocah yang sedang berayun­ayun.

Melihat kejadian ini akhirnya Adipati memerintahkan untuk membatalkan hukuman gantung tersebut dan menggantinya menjadi hukuman kurungan dalam jeruji besi yang sangat kuat. Menerima hukuman tersebut, Saridin meminta pada Adipati agar sesekali diijinkan pulang guna menengok istrinya. Akan tetapi, jangankan dibukakan pintu oleh para sipir penjara, bahkan izin pun tidak diperolehnya. Sadarlah Saridin bahwa dirinya telah tertipu.

Kisah Saridin dan Ilmu Saktinya

Di suatu malam yang sepi, Saridin mengamalkan ilmu kesaktiannya sehingga dirinya terbebas dari penjara besi itu tanpa diketahui oleh penjaga meski ia dijaga dengan sangatlah ketat. Terbebas dari penjara tidak membuat Saridin pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, ia terpikir untuk pergi berguru kepada Sunan Kudus yang saat itu sangat terkenal sebagai penyiar Islam yang kesohor.

Di pesantren Sunan Kudus, Saridin dikenal sangat sakti dengan tindakannya yang aneh-aneh, seperti menimba air sumur dengan keranjang dan menyelinap ke dalam kakus. Hampir semua tindakan Saridin menjadikan sedih dan susahnya Sunan Kudus yang sadar bahwa kesaktian Saridin menimbulkan banyak huru-hara yang meresahkan banyak orang. Hingga suatu hari berkatalah Sunan Kudus pada Saridin, “Hai, Saridin, engkau adalah muridku yang gagah perkasa dan sakti. Tetapi, ketahuilah bahwa di sini bukan tempatnya orang memamerkan kesombongannya. Kalau tidak mau berubah sikap, pergilah dari pesantren ini.”

Tak mengindahkan nasehat tersebut membuat Saridin diusir ramai-ramai oelh para santri dan juga para penduduk sekitar. Karena dirinya merasa terdesak dengan keadaan, maka Saridin terpaksa lari sambil mengejek orang­orang yang mengejarnya itu. Sampailah dirinya di sebuah pasar namun Saridin terus berlari dan mengumpat-umpat sehingga mengejutkan orang-orang yang melihatnya. Para wanita yang ada di pasar itu segera bubar karena ketakutan dengan kejadian ini. Di antara wanita itu ada yang bertanya kepada Kanjeng Sunan Kudus, “Siapakah gerangan orang gila yang mengganggu pasar itu, Kanjeng Sunan?”

“Siapa yang dimaksud? Apakah lelaki yang gagah perkasa itu? Oh, dia bukan orang gila. Dia itu seorang muridku yang pandai dan sakti. Sayang sekali, orangnya sombong dan nakal. Namanya Syekh Jangkung, sedangkan aslinya entahlah. Dulu orang-orang me­manggilnya Saridin. Biarlah dia pergi, mudah-mudahan masih sempat menyadari kesalahannya.”

Orang pun kagum menyaksikan kebesaran hati Sunan Kudus dan segera melupakan kenakalan-kenakalan Saridin yang kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Jangkung. Hingga kini kisah Saridin masih dibicarakan masyarakat akibat kenakalannya yang aneh dan lucu namun sebenarnya dirinya adalah Waliyullah dan termasuk orang yang jujur. Bahkan banyak kesenian di masyarakat yang dipertontonkan dengan mengangkat kisah Saridin ini. begitu menarik untuk dikaji sehingga makam Syekh Jangkung pun ramai dikunjungi orang sampai saat ini.

Demikian kisah hidup Saridin dari lahir hingga dikenang masyarakat Indonesia sebagai Syekh Jangkung. Semoga bermanfaat dan salam sejahtera untuk kita semua.

Baca Ini Juga >> Tasbih Karomah Untuk Segala Hajad Berkahnya Tiada Berhenti

1,897 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Comments

comments