Cerita Angling Dharma dan Ilmu Kesaktiannya

Cerita Angling Dharma dan Ilmu Kesaktiannya – Masa remaja Angling Dharma sudah disegani oleh banyak masyarakat, karena sering membantu teman-temannya dan menumpas kejahatan. Waktu masih kecil, dia sudah dibekali keahlian sejak kecil, sehingga dia mudah mempelajari jurus-jurus dan ilmu yang diajarkan oleh gurunya, yaitu Begawan Maniksutra. Angling Dharma diajarkan bagaimana berburu yang benar dan tidak merusak alam. Angling Dharma mampu melumpuhkan singa yang bear hanya dengan waktu 30 menit.

Namun setelah Angling Dharma bisa berburu, dia sering sekali membunuh hewan. Angling Dharma membantai 3 ekor singa dalam sehari. Gurunyapun memarahinya setelah mengetahui kebiasaan itu, hingga tidak mau berguru lagi dengan Gurunya. Angling Dharma berburu dan mengikat 2 ekor singa dengan tali dan dipergoki oleh Gurunya. Begawan Maniksutra telah berhasil menguasai jurus-jurus yang sangat hebat dalam 2 tahun sebelumnya.

Angling DharmaBegawan langsung menghalangi dan berusaha menghentikan Angling Dharma yang penuh keringat, menyuruh melepaskan singa-singa itu. Namun kenakalan Angling Dharma saat itu hanya tertawa mengejek sang Guru. Pada saat itu juga tiba-tiba tali yang mengikat singa menghilang dan mengejar Angling Dharma. Diapun kembali meminta untuk menjadi murid Begawan Maniksuta lagi.

Semua jurus dan ilmu yang dimiliki Begawan diajarkan oleh Angling Dharma agar bisa meneruskan ilmu untuk paralar pemuda yang berjuang untuk negerinya. Melihat sejarah negeri kakekny yang sering berselisih itu, dengan tekat dan keberaniannya ingin membangun sebuah negeri yang makmur dan damai bagi rakyatnya.

Setelah dewasa, Angling Dharma berniat untuk membawa ibunya ke negeri yang sudah dia bangun sendiri. Negeri itu bernama Malawapati dengan gelar Prabu Angling Dharma atau Ajidharma oleh dirinya sendiri. Negeri tersebut dipimpin sendiri olehnya. Mendengar berita negeri Malawapati yang makmur, Kerajaan Yawastina memberikan seperempat kekuasaannya kepada Angling Dharma.

Angling Dharma tidak pernah meninggalkan kebiasaannya walau sudah menjadi raja. Dia selalu berburu di malam hari. Pada suatu malam, dia melihat seorang gadis yang bersembunyi dari kejaran Harimau. Angling Dharma menolong gadis itu dan membawanya ke tempat yang aman. Merka saling bercerita, mengenal satu sama lain. Gadis itu bernama Setyawati, Putri pertapa sakti bernama Resi Maniksutra. Gadis itu diantarkan pulang kerumahnya. Angling Dharma merasa jatuh cinta terhadapnya, dan berniat menjadikan Setyawati sebagai pendamping hidupnya.

Saat berniat melamar Setyawati, kakak setyawati yang bernama Batikmadrim meminta Anglih Dharma untuk mengalahkannya. Batik Madrim bersumpah kepada siapa saja yang ingin menikahi adiknya, harus bisa mengalahkannya. Pertarungan sengit antara keduanya telah berlangsung, dan akhirnya dimenangkan oleh Angling Dharma. Setyawati menjadi pendamping Angling Dharma, sedangkan Batik Madrim diangkat menjadi patih kerajaan Malawapati.

Dimalam yang lainnya saat Angling Dharma berburu, Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Berselingkuh deng seekor ular tampar. Nagaraja adalah seorang guru yang tinggal dikerajaan Yawastina dan istrinya bernama Nagagni. Demi kebaikan, Angling Dharma membunuh ular jantan tersebut. Nagagini melaporkan kejadian palsu dengan keadaan terluka kepada Nagaraja untuk membalaskan kematian temannya yang telah dibunuh oleh Angling Dharma.

Nagaraja percaya apa yang disampaikan oleh istinya itu dan menyusup ke Malwapati. Saat hendak membunuh Angling Dharma, didepan kamarnya, Nagaraja tidak sengaja mendengar pembicaraan Angling Dharma kepada istrinya tentang perselingkuhan Nagagini. Mengetahui kebernaran itu, Nagaraja muncul dihadapan Angling Dharma dan meminta maaf karena berniat membunuhnya.

Pada saat itu juga, Nagaraja bercerita kepada Angling Dharma bahwa dirinya akan meninggal karena telah memasuki masa moksa. Moksa adalah masa dimana arwah seseorang akan pergi dari raganya untuk berenkarnasi menuju ke manusia yang akan dilahirkan. Nagarajapun mewariskan ilmu kesaktiannya dengan rahasia berupa Aji Gineng kepadanya dan Nagarajapun meninggal. Angling Dharma menjelaskan apa yang terjadi kepada istri Nagaraja sebelum meninggal dan membawa jenazahnya.

Cerita Angling Dharma dapat mengerti bahasa hewan setelah menerima ilmu yang diwariskan oleh Nagaraja. Dia tertawa menyaksikan pembicaraan cicak yang mengobrol. Semenjak dia memelihara banyak hewan, istrinya tersinggung dan merasa tidak diperhatikan olehnya. Angling Dharma ingin berterus terang kepada istrinya, tapi karena janjinya maka dia tetap memegang janjinya itu dan merahasiakannya. Hal itu membuat istrinya marah dan ingin bunuh diri dengan membakar diri. Angling Dharma berjanji lebih baik mati bersama istrinya daripada membocorkan rahasia ilmunya. Dia mendengar percakapan seekor kambing Ketika upacara pembakaran diri digelar Bahwa apa yang dilakukan oleh Angling Dharma itu adalah keputusan yang tidak tepat, karena dapat merugikan masyarakat.

Setelah kematian istrinya, Angling Dharma menjalani hukuman yang diberikan oleh rakyatnya, karena melanggar janji hidup semati dengan istrinya. Dia menitipkan istananya kepada Batimadrim, dan menjalani hukumannya. Namun, Kursi rajanya masih tetap dan tidak lengser.

Dalam perjalanannya memenuhi hukuman, Angling Dharma bertemu dengan tiga orang putri yang sedang jatuh cinta kepadanya. Tiga putri itu bernama Widat, Widati dan Widaningsih. Ketiga putri itu menahan Angling Dharma agar tidak pergi meninggalkannya. Angling Dharma meminta tolong memberikan tempat tinggal untuknya. Selama tinggal bersama ketiga putri tersebut, dia merasa aneh dengan tiga putri itu. Ketiga putri itu sering keluar pada saat malam hari. Karena kecurigaannya, Angling Dharma membuntuti mereka dengan menyamar menjadi burung gagak. Kecurigaan terhadap ketiga putri itu ternyata benar. Mereka keluar untuk berpesta memakan daging manusia setiap malamnya. Mereka adalah penyihir yang suka memangsa manusia.

Angling Dharma dikatahui oleh mereka, dan bertempur sengit. Angling Dharma kalah menghadapi ketiga penyihir itu, dan dikutuk menjadi seekor belibis putih. Belibis putih itu kemudian terbang kembali ke kerajaan Bojanagara. Sampai sana, dipelihara seorang pemuda desa yang bernama Jaka Geduk. Terkejutnya Jaka Gleduk, saat mengetahui Belibis putih itu mampu berbicara bahasa manusia.

Dimasa itu, sedang ada kasus yang dihadapi oleh Raja Bonaraga, yaitu Darmawangsa. Darmawangsa bingung menghadapi kasus seorang wanita bernama Bermani yang mempunyai dua orang suami berwujud sama dengan nama yang sama juga. Nama suaminya adalah Bermana. Datanglah pemuda itu bersama Belibis Putih untuk membantu sang raja dalam pengadilan Bermani. Akhirnya Bermana palsu terbongkar dan kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka atas petunjuk dari Belibis Putih. Jaka Gleduk diangkat menjadi hakim negara dan belibis putih diminta sebagai peliharaan putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.

Cerita Angling Dharma menceritakan juga bahwa Angling Dharma sebenarnya bisa berubah wujud menjadi manusia, tapi hanya pada malam hari saja. Hanya Ambarwati yang mengetahui hal tersebut, karena hal itu dirahasiakan olehnya. Setiap malam, dia menemui Ambarwati dengan wujud manusia hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta.

Saat putri Darmawangsa hamil, bingunglah raja Darmawangsa karena putrinya hamil tanpa suami. Dengan kebetulan, munculah seorang bernama Resi Yogiswara yaitu petapa sakti yang mengaku mampu mencari siapa ayah yang ada pada janin putrinya itu. Resi Yogiswara mencurigai seekor belibis putih yang memakai kalung sama dengan kalung yang dipakai Angling Dharma. Resi Yogiswara menyerang belibis putih dan bertarung dengan sengit sampai akhirnya Belibis putih kembali kewujud Angling Dharma, dan Resi berubah kewujudnya kembali sebagai Batikmadrim yang sebenarnya datang untuk menjemputnya, karena waktu menjalani hukumanya sudah habis.

Cerita Angling Dharma berlanjut pada Hubungannya dengan putri Ambarwati yang disetujui oleh Darmawangsa. Darmawangsa mengadakan pesta besar-besaran menyambut datangnya Angling Dharma dan melaksankan pernikahan Putrinya. Angling Dharma membawa Ambarwati kembali ke kerajaan Malwapati dan mempunyai seorang anak bernama Angling Kusuma.

Singkat cerita Angling Kusuma menjadi penerus kakeknya sebagai Raja Bojanagara. Namun, selama menjadi raja, Angling Kusuma mempunyai musuh yang bernama Durgandini dan Sudawirat yang bertekat meruntuhkan kerajaan Bojanegara.

Berjayanya Malwapati, Angling Dharma membantu Angling Kusuma memerangi musuh-musuhnya. Pada Akhirnya, mereka berhasil menaklukan musuh dan Sudawirat mengabdi kepada Kerajaan Prabu Angling Dharma. Sedangkan durandini mengabdi kekerajaan Bojanegara.

Bila ingin lebih banyak lagi mengetahui cerita Angling Dharma, ilmu dan jurus-jurus apa yang dimilikinya, sehingga menjadi sakti mandraguna, anda bisa berkunjung di sini.

7,724 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Comments

comments