Asal Mula Tradisi Ruwatan di Tanah Jawa

Asal Mula Tradisi Ruwatan di Tanah Jawa – Ruwatan berasal dari kata ruwat yang mempunyai ari Lepas. Ruwatan bertujuan yaitu melepaskan manusia dari segala bentuk sengkala atau nasib buruk dan mala petaka. Seperti yang dikisahkan dari beberapa versi. Sengkala yang merujuk kepada Kala dalam kisah Batara Guru yang di sebut Batara Kala.

Dimulai dari kisah Batara Guru dan Istrinya Dewi Durga. Keindahan dunia membuat Bathara Guru ingin mengelilingi dunia bersama istrinya. Terbang diangkasa menaiki Lembu Andini. Sampailah mereka terbang di atas samudera bersama dengan terbenamnya matahari, membuat suasana semakin memukau. Pemandangan yang menakjubkan di atas samudera. Bathara Guru dan istrinya berhenti menikmati pemandangan itu. Bathara Guru menatap istrinya, kilauan cahaya matahari yang memantul di samudera, tiup angin dan tenangnya air Laut. Semakin indah pemandangan dengan cantiknya sang Dewi.

RuwatanAsmara Bathara Guru bangkit sejak Weton Wisnu jauh dari rindu asmara. Kebimbangan sang Bathara Gurupun muncul, dan ingin menggauli istrinya di saat itu juga. Dewi Durga menolak dan tidak menanggapinya, sebab bukan waktu yang tepat untuk berbuat seperti itu di tempat terbuka diatas Lembu. Namun, rasa dan nafsu Bathara Guru tidak bisa di tahan lagi, Dewi di pegang dan di pangkunya. Tetap saja sang Dewi tidak mau melakukannya dan mendorong Bathara Guru menjauh darinya dengan berkata kasar sang Dewi kepada suaminya itu.

Bhatara Guru yang berbuat kasar seperti raksasa sudah berbuat disembarang tempat di atas punggung Lembu. Sang Dewi yang mengharapkan Bhatara Guru lebih sabar. Sumpah Serapah Dewi Durga, atas perkataannya itu muncullah taring seperti raksasa pada Bhatara Guru. Tak kuasa menahan gairah dengan amarahnya itu Kama (benih / sperma) Batara Guru terlanjur keluar dan tumpah disamudera.

Air samudera menggebu-gebu seakan di aduk-aduk. Suaranya bergemuruh kencang menggemparkan para Dewa. Para Dewa mencari penyebabnya dan mengetahui penyebabnya itu berasal dari dasar laut. Panas bagaikan panas Api, menyala bersinar merah terang. Batara Guru berkata bahwa yang tampak bersinar disebut “Kama Salah” dan menyeruh membinasakannya.

Kuatnya Kama membuat lari tunggang langgang yang mendekatinya. Batara Guru akhirnya menjelaskan kepada Kama Salah bahwa dia adalah puteranya, kemudian diberi nama Batara Kala. Batara Kala lahir berwujud raksasa besar yang selalu ingin memakan daging manusia. Batara Gurupun mengijinkan anaknya itu untuk memangsa orang-orang sukerta. Sukerta atau sukerto adalah pembawaan lahir yang membawa duka, kesialan dan kesedihan hidup.Batara kala

Namun, terlalu banyak yang menjadi santapan si Kala itu. Batara Guru memutuskan turun kebumi dan menyamar menjadi Ki Dalang Kandhabuwana. Akhirnya Kala menyerah pada Ki Dalang. Kala berjanji tidak akan mengganggu anak-anak sukerta, yang telah diangkat anak Ki Dalang yaitu anak-anak yang telah menjalani Ruwata Murwakala. Kala diperintahkan tinggal dihutan Krendhawahana.

Kala diberkati ki dalang dengan Santri Puja Mantra, dimandikannya Kala dengan air dan bunga-bunga. Dengan bekal sesaji alat-alat pertanian dan hasil bumi, ternak dan kain panjang yang akan menjadi bekal perjalanan menuju ke hutan. Bala tentara Kalapun diusir oleh Bima dan Batara Bayu dengan pecut dan sapu lidi dengan tali perak. Penutup Ruwatan, kidalang memotong rambut para sukerta dan memandikan mereka dengan air dan macam-macam bunga.

Hikmah dan dapat diperoleh dari acara Ruwatan sendiri adalah Kala lahir dari Kama Salah atau Produk dari Sperma yang salah. Mengajarkan bahwa berhubungan itu hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, baik berdasarkan tempat, waktu yang layak dan tidak hanya dengan nafsu semata yang menyebabkan lahirnya watak sang anak yang kurang baik. Dengan bekal sesaji yang dibawa Kala adalah kebutuhan hidup manusia melambangkan cinta kepada ibu Pertiwi dengan hasil Buminya.

Untuk lebih jelasnya manfaat ruwatan bisa anda kunjungi di sini.

406 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Artikel Menarik Lainya :

Cerita Nini Pelet dan Kekuatan Pelet Luar Biasa
Kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso
Cerita Legenda Nyi Roro Kidul yang Mengerikan
Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih
Sejarah Ilmu pengasihan sebagai Ilmu Legenda di Indonesia
Jenis Jenis Pusaka Sakti di Tanah Jawa
Sejarah Meriam Jagur dan Mitos yang Mampu Memberikan Keturunan
Misteri Alas Roban Di Batang Jawa Tengah, Hutan Angker Pembuangan Mayat

Comments

comments