Dibalik Keindahan Candi Ratu Boko, Inilah Kisah Mistis Didalamnya

Dibalik Keindahan Candi Ratu Boko, Inilah Kisah Mistis Didalamnya

Dibalik Keindahan Candi Ratu Boko, Inilah Kisah Mistis Didalamnya – Tempat wisata ini tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan berada di ketinggian 196 meter di atas permukaan laut. Panorama yang eksotis dan suasana sejuk yang sarat mitos dan legenda, ditambah dengan pemandangan kota Yogyakara lengkap dengan Candi Prambanan serta latar belakang Gunung Merapi di sebelah utara tesaji di tempat wisata ini.

Candi ini tidak dapat disebut candi utuh karena merupakan reruntuhan sebuah istana atau keraton yang ditemukan sekitar abad ke-17. Nama Candi Ratu Boko diambil dari nama seorang raja Mataram bernama Ratu Boko yang konon merupakan ayah dari Roro Jonggrang. Di dalam candi ini juga ditemukan Prasasti Abhayagiriwihara yang dibangun pada 792 M.

Legenda Candi Ratu Boko Yang Penuh Misteri

Alkisah, bertahtalah seorang Raja yang bernama Prabu Dewatasari di Kraton Prambanan, namun banyak yang menyebut juga bahwa Raja Prambanan adalah Prabu Boko, seorang Raja yang ditakuti karena konon menurut cerita, Prabu Boko gemar makan daging manusia.

Dan ternyata, sesungguhnya Prabu Boko adalah seorang perempuan, yaitu permaisuri Raja Prambanan yang bernama asli Prabu Prawatasari. Prabu Boko adalah perempuan titisan raksasa yang bernama Buto Nyai. Meskipun titisan raksasa, kecantikan Prabu Boko tidak ada yang menandingi di wilayah Jawa Tengah kala itu. 

Karena postur badannya yang tinggi melebihi rata-rata tinggi orang dewasa di masa itu, Prabu Boko juga mendapat julukan Roro Jonggrang. Setelah melahirkan putranya, Prabu Boko mempunyai kebiasaan suka makan  daging manusia. Karena perbuatannya tersebut, Raja Prabu Dewatasari murka dan mengusir permaisurinya meninggalkan istana. Kepergian sang permaisuri meninggalkan luka bagi Raja dan putranya yang masih bayi. Akhirnya dibuatlah patung dari batu yang menyerupai istrinya yang kini dikenal dengan Roro Jonggrang.

Hubungan antara Legenda Ratu Boko yang terkenal dan situs Ratu Boko yang asli juga dipelajari oleh arkeolog Belanda N.J. Krom. Dalam versi lain, ada yang mengatakan juga bahwa Ratu Boko adalah raksasa yang tinggal di istana di aula situs ini. Dia adalah raksasa yang suka makan manusia dan Bandung Bondowoso adalah ksatria yang membunuhnya.


Baca juga artikel menarik lainnya :


Keindahan Candi Ratu Boko

Istana dengan luas 250.000 meter persegi ini terbagi menjadi empat bagian, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sedangkan bagian tenggara terdiri dari Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Di bagian timur terdapat kompleks gua, stupa Buddha, dan kolam. Sedangkan bagian barat hanya terdiri dari perbukitan.

Beberapa arkeolog profesional juga datang ke tempat ini seperti Brandes pada tahun 1903, Bosch pada tahun 1918, Sutterheim pada tahun 1926, dan Krom pada tahun 1931. Mereka semua mendukung gagasan bahwa dataran utama berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan.

Sedangkan Bernet Kempers yang datang pada tahun 1978 menganggap kemungkinan bahwa tempat ini adalah taman istana. Gagasan ini tampak lebih masuk akal jika melihat karakteristik taman Jawa yang merupakan analisis dari  Denys Lombard. Dia mencatat bahwa taman kerajaan di Jawa memasukkan fasilitas mandi, kegiatan keagamaan seperti meditasi di gua-gua, dan tembok tinggi yang mungkin telah digunakan untuk benteng. Bermacam fasilitas tersebut juga bisa kita lihat di pelataran Candi Ratu Boko.

Candi Ratu Boko ini adalah tempat untuk melihat sunset yang banyak diminati oleh wisatawan lokal bahkan asing sekalipun. Bahkan tidak jarang banyak para calon pengantin melakukan sesi pre-wedding disini. Namun dibalik keindahan Candi ini juga tidak sedikit pengunjung yang mengalami kejadian – kejadian janggal saat berkunjung. Di antaranya pasangan yang putus cinta setelah dari Candi Ratu Boko, terasa seperti kelebihan orang dalam rombongan padahal sudah dihitung berkali-kali, hingga kejadian tersesat seperti tidak menemukan gapura utama yang dilewati ketika memasuki pelataran Candi.